Bijak dalam Menyikapi Pembalut Berklorin

Komunitas SB1M

Sebagai seorang perempuan harus bijak dalam menyikapi pembalut berklorin. Klorin adalah unsur kimia dengan simbol Cl dan nomor atom 17. Unsur ini merupakan kelompok halogen dan merupakan halogen ringan kedua setelah flour.

Bijak dalam Menyikapi Pembalut Berklorin

Bijak dalam Menyikapi Pembalut Berklorin

Pada kondisi standar, klorin berupa gas berwarna kuning-hijau, di mana klorin membentuk molekul diatomik (Cl2). Klorin memiliki afinitas elektron tertinggi dan elektronegativitas tertinggi ketiga dari semua elemen reaktif. Karena itulah klorin termasuk agen pengoksidasi kuat.

Pasukan Synergy

Senyawa klorin terdapat dalam berbagai bentuk ketika atom Cl berikatan dengan berbagai atom yang lain membentuk senyawa ionik. Ketika Cl berikatan dengan atom Natrium, jadilah NaCl, yaitu garam dapur yang kita kenal sehari-hari.

Klorin dalam bentuk ion juga terdapat dalam tubuh kita, yang jika berikatan dengan atom H (hydrogen) akan menjadi HCl atau asam lambung. Jadi unsur klorin adalah unsur yang kita temui sehari-hari.

Potensi oksidasi unsur klorin yang tinggi menyebabkan klorin dapat digunakan sebagai agen pemutih dan disinfektan (menghilangkan kuman). Klorin juga banyak digunakan sebagai reagen penting dalam industri kimia, termasuk dalam pembuatan berbagai macam produk konsumen. Seperti polyvinyl chloride, juga menjadi zat antara untuk produksi plastik dan produk akhir lainnya.

Unsur klorin dalam bentuk senyawa Ca (ClO)2 alias kaporit banyak digunakan untuk pembersih dan disinfektan air di kolam renang atau air PAM. Pemutih pakaian yang sering kita pakai adalah senyawa klorin juga, dalam bentuk NaClO atau natrium hipoklorit.

Klorin pada Pembalut Wanita

Pembalut wanita dan tampon (termasuk diaper bayi) yang banyak beredar saat ini umumnya terbuat dari katun, rayon atau campuran rayon, dan kapas. Rayon terbuat dari serat selulosa yang berasal dari pulp kayu. Untuk mendapatkan bahan baku rayon umumnya perlu dilakukan proses pemutihan pulp kayu (bleaching) dan pemurnian. Di bawah ini ada beberapa cara pemutihan yaitu :

1. Pemutihan menggunakan gas klorin

Proses ini dapat menghasilkan dioksin sebagai produk sampingannya. Proses ini digunakan oleh pemasok bahan baku rayon untuk tampon di masa lalu. Diperlukan beberapa proses berikutnya untuk menghilangkan dioksin. Di Amerika, proses ini tidak boleh lagi digunakan oleh produsen pembalut wanita atau tampon dan sanitary napkins lainnya karena kekuatiran terbentuknya dioksin yang beracun.

2. Pemutihan yang bebas elemen klorin (elemntal chlorine-free)

Pemutihan ini tidak menggunakan gas klorin, tetapi menggunakan Chlorine dioxide. Proses ini tidak menghasilkan dioksin sebagai kontaminan, sehingga sering pula disebut proses pemutihan bebas dioksin. Kalaupun ada dioksin terbentuk, itu sudah dalam kadar sangat kecil yang bisa bermakna memberikan efek. Namun pada proses ini masih memungkinkan meninggalkan trace element berupa senyawa klorat atau klorit sebagai hasil sampingnya.

3. Pemutihan dengan metode Totally Chlorine Free (TCF)

Pemutihan ini menggunakan bahan non-chlorin misalnya menggunakan hidrogen peroksida (H2O2) dan ozon atau asam perasetat. Proses ini dipastikan tidak menghasilkan senyawa dioksin sama sekali. Sebenarnya kekuatiran utama dalam hal proses pemutihan ini adalah terbentuknya senyawa dioksin yang merupakan polutan lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa mereka dapat mempengaruhi sejumlah organ dan sistem tubuh. Setelah dioksin memasuki tubuh, mereka bertahan lama karena stabilitas kimia dan kemampuan mereka untuk diserap oleh jaringan lemak, dimana mereka kemudian disimpan dalam tubuh.

Waktu paruh mereka di dalam tubuh diperkirakan 7-11 tahun. Paparan jangka pendek dioxin kadar tinggi pada manusia dapat mengakibatkan lesi kulit, seperti chloracne (sejenis jerawat akibat paparan senyawa helogen, termasuk dioksin) dan penggelapan warna kulit, dan gangguan fungsi hati. Sedangkan paparan jangka panjang menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh, perkembangan sistem saraf, sistem endokrin dan fungsi reproduksi. Paparan kronis dioksin pada hewan telah mengakibatkan beberapa jenis kanker.

Totally Chlorine Free (TCF)

Karena itu, sebagian besar industri pulp (termasuk yang menghasilkan bahan baku pembalut) kini beralih menggunakan metode kedua yaitu pemutih secara elemental chlorine-free (ECF). Walaupun disebut sebagai bebas elemen klorin, tetapi sebenarnya masih menggunakan senyawa yang mengandung unsur klor yaitu Chlorine Dioxide (klorin dioksida).

Cara ketiga yaitu TCF yang menggunakan ozon dan H2O2 nampaknya kurang ekonomis. Selain itu dari hasil riset beberapa universitas di Gothenbergdan Stockholm Swedia, diperoleh bahwa efek terhadap lingkungannya tidak berbeda nyata, sehingga banyak industri memilih menggunakan metode ECF.

Ketika Kemenkes mengundang pada industri produsen pembalut yang dilaporkan mengandung klorin, semua menyatakan bahwa mereka menggunakan bahan baku yang diproses dengan metode ECF. Dengan demikian, klorin yang ditemukan dalam pembalut tersebut diduga merupakan trace elemen dari hasil pemutihan menggunakan klorin dioksida pada metode ECF.

Pada kontroversi bentuk klorin yang ditemukan dalam pembalut ini, YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) menyebutkan bahwa senyawa klorin yang ditemukan dalam pembalur adalah dalam bentuk klorin bebas, dan mereka menyebutnya adalah Cl2. Mereka menggunakan metode spektrofotometri dalam deteksinya. 

Bahayanya Klorin

Gas klorin adalah termasuk gas yang toksin/beracun, dimana gas ini bersifat menyebabkan iritasi dan bersifat korosif. Jika terhirup dalam jumlah tertentu tentu akan menyebabkan kerusakan pada paru-paru. Demikian pula jika tertelan, klorin dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan pada saluran pencernaan.

Namun hubungan klorin dengan kejadian kanker pada manusia masih sangat sedikit dilaporkan. Environment Protection Agency (EPA) sejauh ini tidak menggolongkan klorin sebagai senyawa penyebab kanker atau karsinogen.

Saat ini yang diatur mengenai batas aman klorin adalah pada air minum. Hal ini karena air minum banyak yang didisinfeksi/disterilkan menggunakan senyawa klorin, baik dalam bentuk kaporit atau Klorin dioksida, sehingga tentunya menghasilkan residu klorin.

Sejauh itu klorin dalam air minum jelas-jelas masuk ke dalam tubuh sehingga bisa masuk ke semua organ tubuh. EPA dan WHO mensyaratkan residu klorin maksimal pada air minum adalah 4 mg/L atau 4 ppm. Di sisi lain, kadar klorin kurang dari 0,2 ppm akan menyebabkan fungsinya sebagai disinfektan berkurang atau hilang, sehingga air beresiko tercemar bakteri. Artinya jika diasumsikan seorang minum air yang mengandung klorin dalam sehari 2 liter, maka kandungan klorin yang masih dipandang aman untuk kesehatan adalah 8 mg.

Sedangkan pada pembalut yang ditemukan YLKI kadar tertinggi yang ditemukan pada merk tertentu adalah 55 ppm, yang artinya adalah 55 mg dalam 1000 gram pembalut. Jika berat satu pembalut adalah 10-20 gram, maka kandungan klorin yang ada dalam setiap pembalut adalah 0,55-1 mg. Angka yang cukup jauh di bawah batas aman yang dibolehkan jika ditakar dari klorin yang boleh dikonsumsi orang melalui air yaitu 8 mg. Itupun hanya bersentuhan dengan kulit, tidak terasup masuk ke dalam tubuh.

Pasukan Synergy
Pembalut Berklorin Masih Aman Digunakan?

Sebagian orang masih menanyakan kemungkinan klorin masuk ke dalam tubuh melalui penguapan menjadi gas. Sebagai informasi, Agency for Toxic Substance and Disease Registry menyatakan bahwa senyawa hipoklorit dapat terdekomposisi/terurai menjadi gas klorin jika bereaksi dengan air. Namun demikian, proses dekomposisi tersebut memerlukan suhu tertentu, dimana untuk NaClO memerlukan suhu di atas 40 derajat C, sedangkan Ca (ClO)2 memerlukan suhu 100 derajat C.

Jika diasumsikan residu pada pembalut itu berupa senyawa hipoklorit, maka mereka belum akan menguap pada suhu tubuh manusia yang sekitar 37 derajat C, kecuali sedang demam tinggi. Apalagi dengan kadar sekecil itu dalam pembalut, maka semakin kecil lagi yang menguap. Di sisi lain, fungsi klorin sebagai disinfektan sebenarnya justru membantu mensterilisasi pembalut dari kuman.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pembalut wanita yang mengandung klorin dalam jumlah seperti dilaporkan oleh YLKI masih aman digunakan. Kekuatiran menyebabkan kanker bisa ditepis dengan sifat klorin yang bukan karsinogenik. Apalagi dengan jumlah yang sangat kecil yang ada dalam pembalut, dengan kemungkinan kecil menjadi gas Cl2.

Jika sebagian wanita ada yang memiliki kulit sensitif, perlu kiranya mempertimbangkan pemilihan pembalut yang tidak menyebabkan iritasi. Misalnya yang berkadar klorin rendah.

Demikian info tentang bijak dalam menyikapi pembalut berklorin semoga para perempuan bisa bijak dalam memilih dan menggunakan pembalut agar kesehatan tidak terganggu.

Referensi:

Ternyata belajar internet itu mengasyikan, apalagi bisa punya penghasilan 20 jutaan per bulan... rasanya gimana gitu... Tapi gimana cara belajarnya?? Klik gambar di bawah untuk dapat solusinya

Komunitas SB1M
loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.