Gadget Memicu Kelainan pada Mata Anak

Di artikel ini kami akan bahas seputar Gadget Memicu Kelainan pada Mata Anak. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang semakin pesat dan menjangkau seluruh lini kehidupan, menjadikan masyarakat tidak mungkin lagi menjauhi piranti dan perangkat TIK dalam kehidupan sehari-hari.

Gadget Memicu Kelainan pada Mata Anak

Gadget Memicu Kelainan pada Mata Anak

Bahkan di kalangan anak-anak pun gadget sudah sedemikian akrabnya. Sehingga seolah tidak bisa lagi anak-anak dijauhkan dari gadget dalam aktivitas sehari-hari. Padahal terlalu lama menatap layar gadget dapat memicu kelainan mata pada anak-anak. Terutama di usia prasekolah.

Sekarang semakin banyaknya anak-anak usia prasekolah yang datang ke optical menderita kelainan mata refraksi. Seperti minus dan silinder hingga kelainan binokular. Setelah melakukan rangkaian pemeriksaan dengan detail menggunakan alat lengkap, 50 persen anak-anak yang datang ke optical menderita kelainan refraksi mata seperti minus dan silinder.

Anak-anak tersebut kerap bermain game atau menonton film lewat gadet hingga berjam-jam. Orang tua boleh saja mengizinkan buah hatinya bermain gadget. Tetapi di atas usia 8 tahun, anak-anak tidak boleh bermain hingga lebih dari 2 jam.

Otot mata anak, memang masih lentur sehingga dia akan tahan berjam-jam menatap layar gadget, seperti tablet. Anak juga tidak akan mengeluh bila matanya lelah. Berbeda dengan mata orang dewasa yang sudah tidak lentur. Sehingga cepat merasa lelah saat berlama-lama menatap layar gadget.

Akibat dari kebiasaan bermain gadget, tanpa disadari dan dikeluhkan anak. Menatap layar gadget lebih dari 2 jam sehari dan dilakukan setiap hari, akan mengubah bentuk bola mata. Yang tadinya bulat menjadi lonjong dan ini sulit kembali ke bentuk semula. Kondisi ini akhirnya menyebabkan mata anak menderita kelainan refraksi. Bisa minus atau rabun jauh atau istilah medisnya myopia dan bisa juga silinder.

Kondisi tersebut bisa memicu terjadinya gangguan penglihatan berat di kemudian hari. Karena itu, deteksi awal disarankan dimulai sejak dini. Orang tua sebaiknya mulai lebih peduli masa depan anak dengan memastikan kesehatan penglihatan anak.

Hal itu bisa dilakukan dengan mendeteksinya menggunakan Snellen Chart, poster dengan tingkatan huruf yang semakin ke bawah semakin kecil. Lakukan dengan jarak 5 – 6 meter dan tutup mata kiri dan kanan secara bergantian, sambil memastikan huruf pada angka 100 persen terlihat jelas. Ini berfungsi untuk mendeteksi ketajaman visual penglihatan seseorang.

Kenali Tanda-Tanda Kelainan Penglihatan pada Anak

Kenali tanda-tanda gangguan penglihatan tidak optimal seperti kalau ingin melihat lebih jelas harus memicingkan mata atau memiringkan kepala, sering kucek mata, tidak tahan atau mata berat (berair) saat melihat dekat atau membaca terlalu lama dan melihat benda menjadi berbayang atau ganda, pusing bahkan tegang di sekitar mata hingga menjalar ke leher.

Bila mengalami hal seperti tersebut, segera periksa mata guna memastikan apakah menderita mata minus atau rabun jauh (myopia), rabun dekat (hyperopia) atau mata silinder (astigmat). Disarankan dilakukan pemeriksaan binokuler yang komprehensif, terstandardisasi dan akurat untuk memastikan apakah gangguan penglihatan masih dapat diatasi oleh pemakaian kacamata dan lensa kontak atau diakibatkan oleh faktor medis sehingga memerlukan penanganan dokter mata spesalis.

Peningkatan durasi kegiatan penglihatan jarak dekat berjalan seiring tingginya pemakaian berbagai perangkat teknologi seperti komputer, laptop, tablet dan gadget lainnya yang bisa menimbulkan berbagai gangguan penglihatan. Gangguan penglihatan tersebut sudah mencapai batas yang sangat mengkhawatirkan, bahkan saat ini ditemukan banyak anak usia dini sudah menggunakan kacamata.

Keakuratan ukuran kacamata anak-anak yang menderita gangguan refraksi (sulit melihat jauh atau dekat) menjadi hal yang sangat penting diperhatikan orang tua, terutama pada anak di bawah 8 tahun. Bila gangguan terjadi pada usia di bawah 8 tahun, masih dimungkinkan adanya perbaikan penglihatan fungsionalnya. Untuk itu perlu peran orang tua guna memastikan kacamata yang digunakan anak sudah tepat.

Penglihatan yang tidak optimal sangat memberikan dampak yang serius bagi para penderitanya. Mereka jadi kurang jelas melihat suatu objek, gambar, ataupun melihat dunia sekitar. Dampak paling besar kehilangan penglihatan binokulernya yaitu penglihatan 3 dimensi, dimana hal ini akan membuat mereka kehilangan kesempatan berkarier sebagai pilot, dokter bedah, arsitek dan lainnya.

Demikian info terkait dengan Gadget Memicu Kelainan pada Mata Anak, kami harap post ini mencerahkan Anda. Tolong artikel ini dishare agar semakin banyak yang memperoleh manfaat.

Referensi: Bisnis dan Investasi Kesehatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Natural

Kopi Madu Teh

Ramuan Herbal

Resep Herbal Sekilas Ramuan Herbal Terapi Herbal

Suplemen

MSI Suplemen Lain Synergy WorldWide

Tanaman Herbal

Buah Herbal Sayur Herbal Tumbuhan Lain
Penyakit Kronis Penyakit Menular Penyakit Tak Menular
Program Diet Rendah Purin
Program Diet Rendah Purin bagi Penderita Asam Urat
Gejala Anemia yang Sering Terjadi
Gejala Anemia yang Sering Terjadi pada Kita
Faktor Penyebab Sakit Maag
Faktor Penyebab Sakit Maag atau Gastritis
Pedoman Umum Gizi Seimbang
Pedoman Umum Gizi Seimbang untuk Tubuh Sehat
Menjaga Kesehatan Tubuh dengan Cepat
Menjaga Kesehatan Tubuh dengan Cepat dan Tepat
Bahaya dari Merokok yang Jarang Orang Tahu
Bahaya dari Merokok yang Jarang Orang Tahu
Bijak dalam Menyikapi Pembalut Berklorin
Bijak dalam Menyikapi Pembalut Berklorin
Alternatif Cantik Solusi Lainnya Tips Sehat
Aplikasi Cantik Bronzer agar Lebih Natural
Aplikasi Cantik Bronzer agar Lebih Natural
No Preview
These Foods to Absolutely Avoid If You Want Clear, Glowing Skin
Ducati ‘has all the cards’ to win 2017 MotoGP title, says CEO

Hipnosis

Terapi Alternatif

Terapi Lain

NLP

Terapi Psikologi